DESKRIPSI MASALAH.
Pertanyaan :
A. Apa hukum mengucapkan selamat natal?
B. Sudah benarkah tindakan yangg dilakukan zaid?
JAWABAN:
A. HUKUMNYA HARAM
Pertimbangan:
1. Umumnya mayoritas lembaga darul Fatwa negara-negara Islam seperti Mesir, Suriah, Sudan, Libanon, Yordania dll, dan ulama-ulama Ahlussunnah waljamaah saat ini memandang bahwa ucapan selamat Natal (التهنئة بأعياد الكفار) boleh dilakukan selama tidak ada pengakuan dan kecenderungan terhadap akidah mereka, dan tasyabuh dalam perkara-perkara yang identik dengan mereka. Bahkan dijelaskan bahwa memberi ucapan selamat (tahni’ah) semacam ini adalah bagian dari perkara yang dicintai Allah dan diridlaiNya. Sebaliknya mengharamkan ucapan selamat adalah sebuah pandangan yang picik di dalam memahami nash-nash Syariah
2. Sebagian besar ulama-ulama yang mengharamkan adalah kalangan Salafi yang dikomando oleh Lajnah Daimah Saudi Arabia, dengan dalil dan ibaroh yang sama persis dengan ibaroh dan penjelasan hasil keputusan bahtsul Masa’il di Indonesia. Bahkan kalangan salafi yang mutasyaddid tidak mentolelir perbuatan seperti ini.
3. Setelah dipahami ibaroh-ibaroh mereka, pangkal perbedaan pendapat mengenai hukum mengucapkan selamat Natal, hanya pada apakah ucapan selamat Natal ini adalah tahni’ah terhadap perkara agama atau bukan. Mereka (mengecualikan salafi mutasyaddid) pada dasarnya sepakat bahwa berbuat baik kepada orang kafir terutama tetangga, berakhlak baik kepada mereka, saling tolong menolong dan sejenisnya boleh dilakukan selama tidak menyangkut masalah agama, seperti ta’ziyah, memberi selamat saat sukses dalam pekerjaan, membantu membangun rumah dll. Jika dalam urusan agama maka mereka sepakat menyatakan haram karena seakan-akan ada pembenaran atau minimal dukungan terhadap keyakinan dan perilaku keagamaan mereka yang salah.
4. Informasi dari para muallaf kristiani menyatakan bahwa kelahiran nabi Isa bukan tanggal 25 Desember sebagaimana diyakini umat Kristen. Tanggal 25 desember adalah hari lahir dewa matahari, sebagaimana keyakinan Mesir Kuno dan kaum Yunani. Dari sini disimpulkan bahwa keyakinan umat kristiani yang kini dipeluk adalah sebuah kesalahan yang ketika kita benarkan adalah bagian dari syahadah zur yang diharamkan sebagaimana dalam firman Allah surat Al-Furqan ayat 72. Dan merayakan hari natal nabi Isa pada tanggal ini adalah keyakinan keagamaan mereka yang melenceng.
ATAS PERTIMBANGAN DI ATAS MAKA TAKROR ASSUNNIYYAH MEMUTUSKAN: BAHWA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL ADALAH HARAM, BAHKAN MENJADIKAN MURTAD JIKA ADA MAIL QALBI (KECENDERUNGAN/PEMBENARAN/DUKUNGAN HATI) TERHADAP KEYAKINAN MEREKA
IBAROT
Fathul Aliyu al Malik 2/348
Tuhfah al-Muhtaaj 40/259
Bughyah al-Mustarsyidiin I/528
Hasyiyah al-Jamal ala al-Manhaj III/576 :
Fatawa Ibn Hajar al-Haytamy IV/238
Tafsiir al-Fakhr ar-Raazi I/1124 :
B. TIDAK DIBENARKAN, ibaroh
Ikut sub a
Said hidup didaerah yg mayoritas masyarktnya berpnduduk kristen, ketika perayaan hari natal dia bingung mau mngucapin selamat natal tetapi katanya tidak boleh, kalau tidak mngucpkn takut dicap islam adalah agama yangg tidak bertoleransi, akhirnya dia mengucapkan selamat natal tidak dengan niat menghormati tetapi hanya untuk ukhuwah al basyariah (toleransi antara sesama manusia)
Pertanyaan :
A. Apa hukum mengucapkan selamat natal?
B. Sudah benarkah tindakan yangg dilakukan zaid?
JAWABAN:
A. HUKUMNYA HARAM
Pertimbangan:
1. Umumnya mayoritas lembaga darul Fatwa negara-negara Islam seperti Mesir, Suriah, Sudan, Libanon, Yordania dll, dan ulama-ulama Ahlussunnah waljamaah saat ini memandang bahwa ucapan selamat Natal (التهنئة بأعياد الكفار) boleh dilakukan selama tidak ada pengakuan dan kecenderungan terhadap akidah mereka, dan tasyabuh dalam perkara-perkara yang identik dengan mereka. Bahkan dijelaskan bahwa memberi ucapan selamat (tahni’ah) semacam ini adalah bagian dari perkara yang dicintai Allah dan diridlaiNya. Sebaliknya mengharamkan ucapan selamat adalah sebuah pandangan yang picik di dalam memahami nash-nash Syariah
2. Sebagian besar ulama-ulama yang mengharamkan adalah kalangan Salafi yang dikomando oleh Lajnah Daimah Saudi Arabia, dengan dalil dan ibaroh yang sama persis dengan ibaroh dan penjelasan hasil keputusan bahtsul Masa’il di Indonesia. Bahkan kalangan salafi yang mutasyaddid tidak mentolelir perbuatan seperti ini.
3. Setelah dipahami ibaroh-ibaroh mereka, pangkal perbedaan pendapat mengenai hukum mengucapkan selamat Natal, hanya pada apakah ucapan selamat Natal ini adalah tahni’ah terhadap perkara agama atau bukan. Mereka (mengecualikan salafi mutasyaddid) pada dasarnya sepakat bahwa berbuat baik kepada orang kafir terutama tetangga, berakhlak baik kepada mereka, saling tolong menolong dan sejenisnya boleh dilakukan selama tidak menyangkut masalah agama, seperti ta’ziyah, memberi selamat saat sukses dalam pekerjaan, membantu membangun rumah dll. Jika dalam urusan agama maka mereka sepakat menyatakan haram karena seakan-akan ada pembenaran atau minimal dukungan terhadap keyakinan dan perilaku keagamaan mereka yang salah.
4. Informasi dari para muallaf kristiani menyatakan bahwa kelahiran nabi Isa bukan tanggal 25 Desember sebagaimana diyakini umat Kristen. Tanggal 25 desember adalah hari lahir dewa matahari, sebagaimana keyakinan Mesir Kuno dan kaum Yunani. Dari sini disimpulkan bahwa keyakinan umat kristiani yang kini dipeluk adalah sebuah kesalahan yang ketika kita benarkan adalah bagian dari syahadah zur yang diharamkan sebagaimana dalam firman Allah surat Al-Furqan ayat 72. Dan merayakan hari natal nabi Isa pada tanggal ini adalah keyakinan keagamaan mereka yang melenceng.
ATAS PERTIMBANGAN DI ATAS MAKA TAKROR ASSUNNIYYAH MEMUTUSKAN: BAHWA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL ADALAH HARAM, BAHKAN MENJADIKAN MURTAD JIKA ADA MAIL QALBI (KECENDERUNGAN/PEMBENARAN/DUKUNGAN HATI) TERHADAP KEYAKINAN MEREKA
IBAROT
Fathul Aliyu al Malik 2/348
" ﻭﺳﺌﻞ ﻋﺰ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﻟﺬﻣﻲ ﻓﻲ ﻋﻴﺪﻩ" :ﻋﻴﺪ ﻣﺒﺎﺭﻙ" ﻫﻞ ﻳﻜﺮﻩ ﺃﻡ ﻻ؟ ﻓﺄﺟﺎﺏ: ﺇﻥ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻟﺬﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﻗﺼﺪ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﻭﻋﻴﺪﻫﻢ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻔﺮ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﺫﻟﻚ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺟﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﻟﺴﺎﻧﻪ ﻓﻼ ﻳﻜﻔﺮ ﺑﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻗﺼﺪ
Tuhfah al-Muhtaaj 40/259
(مسألة : ي) : حاصل ما ذكره العلماء في التزيي بزي الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلاً إلى دينهم وقاصداً التشبه بهم في شعائر الكفر ، أو يمشي معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذلك فيهما ، وإما أن لا يقصد كذلك بل يقصد التشبه بهم في شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم ، وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء في الصلاة.
Bughyah al-Mustarsyidiin I/528
فالحاصل أنه إن فعل ذلك بقصد التشبه بهم في شعار الكفر كفر قطعاً أو في شعار العيد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر، ولكنه يأثم وإن لم يقصد التشبه بهم أصلاً ورأساً فلا شيء عليه
Hasyiyah al-Jamal ala al-Manhaj III/576 :
قال الشيخ عميرة قال الروياني لا يجوز التأمين على دعاء الكافر لأنه غير مقبول أي لقوله تعالى وما دعاء الكافرين إلا في ضلال ا ه سم على المنهج ونوزع فيه بأنه قد يستجاب لهم استدراجا كما استجيب لإبليس فيؤمن على دعائه هذا ولو قيل وجه الحرمة أن في التأمين على دعائه تعظيما له وتقريرا للعامة بحسن طريقته لكان حسنا وفي حج ما نصه وبه أي بكونهم قد تعجل لهم الإجابة استدراجا يرد قول البحر يحرم التأمين على دعاء الكافر لأنه غير مقبول ا ه على أنه قد يختم له بالحسنى فلا علم بعدم قبوله إلا بعد تحقق موته على الكفر ثم رأيت الأذرعي قال إطلاقه بعيد والوجه جواز التأمين بل ندبه إذا دعا لنفسه بالهداية ولنا بالنصر مثلا ومنعه إذا جهل ما يدعو به لأنه قد يدعو بإثم أي بل هو الظاهر من حاله فرع في استحباب الدعاء للكافر خلاف ا ه
حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري رقم الجزء: 3 رقم الصفحة: 576
Fatawa Ibn Hajar al-Haytamy IV/238
فالحاصل أنه إن فعل ذلك بقصد التشبه بهم في شعار الكفر كفر قطعاً أو في شعار العيد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر، ولكنه يأثم وإن لم يقصد التشبه بهم أصلاً ورأساً فلا شيء عليه، ثم رأيت بعض أئمتنا المتأخرين ذكر ما يوافق ما ذكرته فقال: ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون، وقد قال : «من تشبه بقوم فهو منهم» ، بل قال ابن الحاج : لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانياً شيئاً من مصلحة عيده لا لحماً ولا أدماً ولا ثوباً ولا يعارون شيئاً ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك. ومنها اهتمامهم في النيروز بأكل الهريسة واستعمال البخور في خميس العيدين سبع مرات زاعمين أنه يدفع الكسل والمرض وصبغ البيض أصفر وأحمر وبيعه والأدوية في السبت الذي يسمونه سبت النور وهو في الحقيقة سبت الظلام ويشترون فيه الشبث ويقولون أنه للبركة ويجمعون ورق الشجر ويلقونها ليلة السبت بماء يغتسلون به فيه لزوال السحر ويكتحلون فيه لزيادة نور أعينهم ويدهنون فيه بالكبريت والزيت ويجلسون عرايا في الشمس لدفع الجرب والحكة ويطبخون طعام اللبن ويأكلونه في الحمام إلى غير ذلك من البدع التي اخترعوها ويجب منعهم من التظاهر بأعيادهم اهـ.
Tafsiir al-Fakhr ar-Raazi I/1124 :
واعلم أن كون المؤمن موالياً للكافر يحتمل ثلاثة أوجه أحدها : أن يكون راضياً بكفره ويتولاه لأجله ، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوباً له في ذلك الدين ، وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر ، فيستحيل أن يبقى مؤمناً مع كونه بهذه الصفة.
فإن قيل : أليس أنه تعالى قال : {وَمَن يَفْعَلْ ذَالِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَىْءٍ} وهذا لا يوجب الكفر فلا يكون داخلاً تحت هذه الآية ، لأنه تعالى قال : {ياأيها الَّذِينَ آمنوا } فلا بد وأن يكون خطاباً في شيء يبقى المؤمن معه مؤمناً وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر ، وذلك غير ممنوع منه.
والقسم الثالث : وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة ، والمظاهرة ، والنصرة إما بسبب القرابة ، أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه ، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه ، وذلك يخرجه عن الإسلام فلا جرم هدد الله تعالى فيه فقال : {وَمَن يَفْعَلْ ذَالِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَىْءٍ} .
B. TIDAK DIBENARKAN, ibaroh
Ikut sub a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar